gifs
Visi Saya Si Jinchuuriki

Rabu, 26 Maret 2014

Corak Hegemoni dalam pendidikan 2





       Teori hegemoni ditulis oleh Antonio Gramsci seorang intelektual partai komunis Italia, yang dalam tulisannya menjelaskan mengapa pemberontakan tidak dilakukan oleh kaum buruh (proletar) terhadap kaum fasis yang diktator pada saat itu. Dan pemikiran yang menjelaskan  bahwa pemberontakan tidak akan terjadi selama masih ada hegemoni yang bekerja dibawah sistem kapitalisme serta tindakan penyadaran tidak harus dilakukan oleh partai komunis yang berisikan kaum buruh dan intelektual yang berkesadaran akan tetapi harus juga mengajak kelompok lain yang tertindas.
     Hegemoni adalah sebuah bentuk penguasaan kesadaran yang dilakukan oleh satu kelompok―kapitalis, kepada kelompok lainnya―kaum tertindas, dengan atau tanpa ancaman kekerasan, sehingga pemikiran yang dibuat diterima sebagai sesuatu yang wajar yang bersifat moral, intelektual serta budaya baik secara sadar maupun tidak sadar. Menurut Gramsci hegemoni tidak dilakukan oleh negara yang dikenal sebagai Ruling Class namun bisa dilakukan oleh seluruh kelas sosial lain. Cara kerja hegemoni bisa dikategorikan menjadi dua tahap yaitu tahap dominasi dan pengarahan. Dominasi yang sering dilakukan dan abadi adalah dengan alat-alat kekuasaan negara seperti sekolah, media, modal, dan lembaga-lembaga negara lainnya, dengan menyusupkan ideologi yang bertujuan untuk pembentukan norma-norma  oleh negara yang disepakati oleh masyarakat.
        Jika tahap dominasi telah dilalui maka berikutnya yaitu tahap pengarahan dan masyarakat harus  tunduk pada kepemimpinan kelas yang mendominasi. Jika siapa saja yang mencoba mengkritik dan melawan akan dianggap orang yang tidak taat terhadap moral dan masyarakat menyebut sebagai sebuah tindakan kebodohan bahkan adakalanya dilenyapkan melalui tindak kekerasan. Teori hegemoni Gramsci ini memberikan solusi untuk  melawan hegemoni (counter hegemony) dengan memfokuskan pada sektor  pendidikan. Dalam catatan harian Gramsci yang menuliskan “ setiap orang sebenarnya adalah seorang intelektual namun tidak semua orang menjalankan fungsi intelektualnya dimasyarakat”. Menurut Gramsci ada dua tipe intelektual yang ada dalam masyarakat yaitu intelektual tradisional dan intelektual organik.
     Intelektual tradisional yaitu intelektual yang terlihat independen dan mengamati serta mempelajari masyarakat dari kejauhan dan seringkali bersifat anti perubahan (konservatif). Contoh intelektual ini seperti para penulis sejarah, filsuf, dan para profesor. Sedangkan yang disebut dengan intelektual organik adalah intelektual yang menanamkan sekaligus menjadi bagian penyebaran ide serta ikut serta dalam pembentukan masyarakat yang diinginkan. Kaum intelektual organik ketika akan melakukan counter hegemoni harus memulai dari kenyataan yang ada dimasyarakat serta harus berpartisipasi aktif dalam menanamkan kesadaran baru yang menyingkap kebobrokan sistem yang salah sehingga dapat diterima masyarakat hingga tercapainya revolusi.
        Bentuk hegemoni bisa dilakukan melalui musik, film, pendidikan yang berdalil “globalisasi” dan yang pastinya masih banyak yang belum kita sadari khususnya anak muda. Contoh sederhana  yang ditanamkan dari dulu hingga sekarang tanpa disadari  menurut saya salah satunya pada sektor pendidikan yaitu dalam warna seragam  yang  berwarna putih-merah dan putih-biru. Mengapa seragam sekolah dasar (SD)  berwarna putih-merah (bendera Jepang)  bukan merah-putih (bendera Indonesia) ? dan seragam Sekolah Menengah Pertama (SMP) putih-biru ? ada warna biru yang mewakili bendera Belanda (merah-putih-biru) . apakah itu merupakan sebuah hegemoni ? atau merupakan unsur ketidak sengajaan ? tetapi mengapa warna itu yang dipakai ? itu kembali kepada persepsi dari kawan semua.
     Tulisan tentang teori hegemoni yang  alakadarnya ini tentunya  tidak bisa menguraikan seluruh isi pemikiran yang dimaksud oleh Gramsci, akan tetapi hanya sekilas pemahaman saya dan kita tentu harus terus peka dalam mengkaji serta menyelami suatu hal yang implisit tentang realitas kehidupan ini, agar kita memiliki kesadaran baru dalam memandang problema hidup.
Salam Pembebasan!


Minggu, 23 Maret 2014

Slenco Jokowi jadi “plagiat”; sebuah girl band




Berbagai Media  dewasa ini banyak mengabarkan seputar pencapresan Jokowi (JKW)  yang diberi mandat dari ketua umum partainya, banyak pihak yang pro dan kontra bahkan terkesan menyerang JKW dengan argumen yang tidak rasional mungkin mereka sudah takut duluan, hal ini merupakan suatu hal yang biasa di Negara demokrasi yang cacat akan etika politik. Jika apa yang saya tulis ini memang benar maka JKW memang seorang plagiat atau hanya suatu kebetulan saja, namun mengutip kata cah lontong dalam Indonesia Lawak club “anda jangan terjebak kata-kata” , makanya sebelum menyimpulkan baca tulisannya dengan seksama sampai selesai.
Setiap partai politik akan melakukan Koalisi  untuk mendapat suara lebih besar di pemilu, dan ketika partai yang menang  itulah partai pemerintah dan yang tidak berkoalisi disebut dengan partai oposisi. Partai JKW merupakan partai oposisi dari zaman orde baru sampai dengan sekarang karena tidak berkoalisi dengan partai presiden. “Jadi apa hubungannya dengan girl band?” Itu masalahnya! Asumsi dari tulisan saya tidak ada tendensi untuk menjatuhkan partai atau tokoh dari partai tersebut, ada belasan partai yang ikut pemilu 2014 mereka yang tidak mau kalah suara akan melakukan koalisi partai supaya nantinya mendapat kursi jabatan di pemerintahan.
Menurut analisis pakar politik untuk memenangkan pemilu harus dapat menyentuh hati rakyatnya, apa yang dibutuhkan rakyatnya saat ini bukanlah berorasi tentang ideologi maupun perjuangan, sepertinya masyarakat sekarang tidak mengerti dan tertarik dengan yang namanya ideologi agama atau nasionalis. Tetapi mereka lebih membutuhkan kesenangan berlebihan (hedon), data yang menyebutkan hampir 90% masyarakat Indonesia terutama kalangan muda menyenangi hal pragmatis yang dapat dirasakan kesenangannya misal nonton bareng OVJ, YKS yang selalu meningkat jumlah penontonnya, ditambah lagi populernya K-pop ke seantero dunia terutama di Negara dunia ketiga seperti Indonesia merupakan virus yang mewabah dan seolah-olah menggantikan budaya. Fans girl dan boy band sangat antusias bahkan sampai rela mati dan histeris kala bertemu dengan idolanya tersebut, salah satu girl band yang sedang berada di puncak popularitasnya adalah JKT 48 dengan personilnya terdiri dari remaja-remaja SMA yang mampu menarik perhatian ribuan bahkan jutaan anak di Indonesia, andai saja girl dan boy band ikut pemilu dan berkoalisi pasti pemilihnya banyak haha…..
Peluang ini tidak disia-siakan oleh JKW yang akan mengadopsi kesuksesan girl band JKT 48, seperti yang kita tahu nomor urut partai JKW yaitu 4 dan partai yang menang di pemilu 2014 akan menduduki posisi presiden yang ke-7, maka Jokowi akan menjadi plagiat dengan mengusung nama JKW 47. Nih yel-yel untuk JKW 47dari JKT 48….






Judul lagu JKT 48 :Nagai Hikari
Hanya dirimu....+Jokowi
Hanya dirimu..
Hanya dirimu..
Yang bisa ku lihat...+di TV

Dari sekian banyak bintang yang bersinar di langit malam +capres
Saat ini kan kutunjuk satu bintang yang paling penting
Berapa kali musim datang silih berganti +pemilu
Walau rasi bintang berganti, aku tidak akan ragu

Tuhan Juga "Menulis", Kenapa Kita tidak









       "Buat apa menulis ?" Itu kata pertama yang muncul dibenakku saat pemateri menyampaikan tentang manfaat menulis. Kata demi katapun disampaikan tentang bagaimana cara menulis ditambah hal yang empiris mengenai orang-orang yang sangat berpengaruh karena tulisannya semisal Pramoedya Ananta toer dengan bukunya tetralogi buru yang salah satunya berjudul “Bumi manusia” "siapa tuh….?"bisikku dalam hati, Ahh….aku dengarkan saja —walau begitu bingung dan naifnya aku—mengangguk-ngangguk seperti mengerti saja. Jarum jam pun terus berganti tak terasa matahari mulai sembunyi di balik gunung itu seperti lelah memandang  bumi semenjak jam tujuh pagi. Dan materi pun selesai juga, kemudian pemateri menutup dengan kalimat-kalimat motivasi pada kami, “Kita harus…blabla….blibli…, rasa ngantuk ini terus menempel di otakku yang tak bisa mampu lagi tuk berpikir “ ayo cepatlah selesaikan materinya” bisikku pada kenalanku (istilah penulis untuk orang yang belum mengatakan bersedia menjadi teman—pen) yang duduk di sebelahku, dengan diam ia menjawab.
Dan akhirnya pemateri pun meninggalkan tempat, Setelah itu kami diberi arahan oleh panitia dan kami menyusul meninggalkan ruangan, kemudian beristirahat untuk mendinginkan kepala serta berbincang-bincang seputar materi yang telah disampaikan tadi. “kenapa, kelihatannya ngantuk sekali ya? Tanya kenalanku “iya” jawabku sambil tersenyum dan perbincanganku pun hanya begitu saja tak banyak kata yang aku ucap, kemudian kuberserah diri pada lantai yang penuh debu. Sambil melihat atap-atap langit di ruangan tempat istirahat dan aku berpikir “apa tujuan orang untuk menulis ? apa menariknya?” Keluh kesahku pada diri sendiri dan terbesit rasa ingin secepatnya meninggalkan tempat ini saja. Singkat cerita semua agenda acara yang diikuti telah selesai dan semuanya pulang ke rumah masing-masing dengan wajah yang sumringah walau ada sebagian lagi dengan wajah penuh lelah seperti menyesali telah ikut acara ini.
Aku jalani kehidupanku kembali seperti biasanya namun masih sedikit rasa penasaranku tentang aktivitas menulis itu. Disela waktu yang kosong akupun mencari di internet siapa sosok penulis bernama Pram itu yang begitu heroiknya melakukan pencerahan pada semua manusia melalui tulisan-tulisan dengan menghasilkan karya-karya yang begitu melegenda. Setelah membaca dari berbagai sumber dan berbincang dengan kenalanku  akupun semakin tahu siapa sosok Pram sebenarnya, beliau adalah seorang sastrawan sekaligus tokoh revolusioner namun dalam melakukan perubahan tidak dengan kekerasan melainkan dengan penyadaran berpikir dan tulisan sebagai senjatanya, itu kiranya yang aku tangkap. Hal ini menjadi suatu pengetahuan yang baru dalam hidupku bahwa berjuang tidak harus menunmpahkan darah akan tetapi bisa dilakukan dengan cara-cara intelektual.


Setelah perbincangan selesai, akupun masih tidak tahu apa tujuanku untuk menulis. Kemudian aku dapatkan jawaban dari kenalan-kenalanku ada yang menjawab seperti ini “ada orang yang jika bicara tidak dimengerti bahkan sampai ditertawakan itu karena ia dalam berbicara kurang sistematis namun bisa jadi ia pandai dalam menulis sehingga orang bisa mengerti apa yang dimaksudnya” ujarnya sambil menghisap sebatang rokok dan memuntahkan asap di sekitar tempat duduk orang-orang. Ada juga yang menjawab “seorang pendiam merasa tidak nyaman berada dalam keramaian namun ia juga manusia yang ingin diakui keberadaannya di dunia sehingga ia membuat tulisan yang seolah-olah berbicara sekaligus sebagai bentuk eksistensi dirinya”. “…Oohh!” gumamku pelan, ada benarnya juga ketika sebagian orang malu dan takut dalam menyampaikan apa yang diinginkannya mereka megungkapkan kasih sayang, cacian dan kritik lewat tulisan, kita juga dapat melihat diberbagai media sosial orang tidak malu dan tidak takut lagi untuk membagi rasa senang, duka dan berbagai macam bentuk emosi. Kalau menyimpulkan apa yang dua orang tersebut katakan berarti Tuhan itu kaku dalam berbicara kalau tidak Dia pemalu karena tidak pernah bicara langsung tetapi dituangkan dalam kitab-kitab suciNya”…. “Astagfirullah!”…. sambil ku menghela napas, “kenapa aku berpikiran seperti itu” dan saat itu terngiang apa yang telah kudengar dari para ulama dan berbagai buku yang telah kubaca bahwa “suatu yang bersifat metafisik adalah hal transenden yang tidak terjamah oleh logika karena merupakan sesuatu di luar nalar manusia dan mungkin bisa dirasa dengan iman”. Jika kita bertafakur atau melakukan kontemplasi maka akan terlihat tanda-tanda kebesaran Tuhan namun sifatnya implisit seperti contoh ‘Tuhan saja menulis kenapa kita tidak’ dan masih banyak lagi yang belum pernah terungkap. Seperti kalimat berikut ini yang ditulis oleh Pram  “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah (Rumah Kaca, hal. 352)”, kalimat tersebut mengandung makna implisit yang sangat dalam dapat pula diartikan seperti ini ‘seandainnya saja Tuhan tidak ditulis maka umatnya tidak akan tau bahwa Tuhan itu ada’. Bukan hanya manusia saja yang menulis para malaikat pun menulis amal baik dan perbuatan manusia ketika hidup sebagai laporan pertanggung jawaban manusia di hadapan Tuhannya nanti dan laporan malaikat terhadap tugas dari Tuhan.
Memang susah dalam memulai segala sesuatu, seperti halnya saat kita akan memulai sebuah tulisan takut tidak bagus, tidak nyambung, dan masih banyak alasan lain. Padahal semua itu hanya suatu alasan sepele yang menghambat kreatifitas kita saja, niat kita untuk menulis bukan untuk dipuji atau ingin mendapat suatu penghargaan tapi sebagai eksistensi bahwa kita mahluk yang pernah ada di dunia ini sebagai pembeda dari mahluk-mahluk lain. Jadi tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak menulis, jangan malu atau takut  untuk menulis walau menulis butuh keberanian tapi keberanian itu tidak akan ada tanpa kita yang memulai.





Selalu ada disktraksi dalam pemilu







                 Pemilihan umum yang akan dilangsungkan pada 9 April 2014 menjadi agenda khusus bagi para pejabat publik untuk dapat memikat hati rakyat agar dapat menduduki kursi orang nomor satu di Indonesia. Bukan hanya pejabat senior saja yang tampil di kancah politik namun para pendatang baru juga turut andil. Tiap partai politik tengah mengusung tema yang berbeda dengan kemasan sederhana namun bersifat kognatif yaitu membangun pencitraan. Hampir semua pencitraan yang ditampilkan sama sehingga membuat bingung dalam memilih kriteria calon legislatif atau calon presiden dari sisi kredibilitas sosial karena semua parpol pro rakyat dan menampilkan sikap sederhana serta keramahan sehingga sulit untuk dibedakan. Kesantunan dijadikan sebagai alat perebutan kekuasaan dalam dinamika politik di Indonesia yang telah  menenggelamkan esensi dari politik itu sendiri.  Masing-masing dari parpol sudah menentukan bakal calon presiden dengan latar belakang pengusaha sekaligus pemilik media. Dengan taktik menggaet pemilik media memudahkan parpol dalam melakukan hegemoni kepada rakyat melalui media dengan cara pencitraan kesantunan sekaligus sebagai distorsi politik guna menutupi noda hitam di masa lalu, hal ini dapat dilihat dari eskalasi kampanye yang sangat gencar di televisi akhir-akhir ini.
Dalam percaturan politik di Indonesia kebanyakan masyarakat menilai kriteria pejabat publik lebih kepada kepribadian yang ditampilkan ketimbang kapabilitas sosial maupun penilaian terhadap kebijakan― yang akan atau yang pernah dibuat sebelumnya. Segala hal yang esensial dalam kebijakan ditekan oleh citra kesantunan walaupun kebijakan itu sangat merugikan. Di mana kebijakan yang telah merugikan rakyat tersebut merupakan sesuatu yang harus dimaklumi dan diterima begitu saja, secara regresi tidak sedikit kebijakan yang banyak merugikan rakyat, akan tetapi semua itu dapat ditutupi kembali dengan kesantunan yang dimunculkan. Sikap defensif pemerintah dengan perilaku kesantunan dijadikan alat legitimasi yang seakan-akan pihak pemerintah sebagai korban sehingga rakyat menjadi empati.
Sikap santun yang dijadikan sebagai distraksi politik atau suatu pengalihan, di mana esensi politik dialihkan dan diganti oleh sikap pribadi yang baik, sederhana dan santun, sehingga apapun kebijakan yang dibuat dapat diterima begitu saja sebagai rasa ketidakpuasaan rakyat terhadap kebijakan yang telah merugikan. Hanya karena pejabat yang pandai menampilkan sikap ramah, baik, dan santun  maka kita menerima begitu saja kebijakan-kebijakan walaupun merugikan, bahkan kita cenderung memihak pada kandidat yang menyampaikan dengan santun tanpa meninjau kebijakan yang akan dibuat maupun yang telah dihasilkan. Munculnya distraksi politik dengan citra pribadi yang santun di tahun 2004 memang menjadi strategi yang tepat dalam merebut hati rakyat . Sikap defensif yang ditampilkan menaikan popularitas SBY dan alhasil terpilihlah sebagai presiden dengan mengalahkan Mega—salah satunya karena Mega dinilai terlalu keras dalam berorasi yang mencaci tentang program BLT. Kategori-kategori politik telah didepak oleh citra kesantunan, dimana kebijakan-kebijakan yang telah merugikan rakyat bisa dibarter—penghapusan subsidi atau kenaikan BBM―dapat diganti dengan pemberian BLT yang sementara waktu, kasus korupsi tidak menjadi fokus permasalahan—simpati pada air mata dan kasih sayang tersangka terhadap keluarga—keluarga terdakwa korupsi menjadi artis dadakan. Bahkan hal yang esensial seperti Perubahan amandemen UUD tidak menjadi perhatian kita, namun skandal percintaan pejabat menjadi sorotan utama. Ketika kita menerima kesantunan sebagai suatu keyakinan dalam penilaian politik maka kita cenderung akan menerima sesuatu kebijakan yang berdampak pada kepasrahan dan menerima begitu saja kebijakan-kebijakan yang telah merugikan tanpa bertanya dan mekritisi.
Menjelang pemilu 2014 dapat dipastikan para kandidat berkamuflase dengan kedok kesantunan sebagai alat untuk berebut kekuasaan. Di mana kesantunan dijadikan alat yang dapat menjatuhkan lawan politik yang tidak santun.  Sebagai pemilih yang cerdas tentunya kita menilai kandidat berdasarkan integritas bukan hanya sikap kesantunan saja, akan tetapi lebih objektiv dalam memilih yaitu menilai sesuatu dari kinerja kandidat  secara sosial dalam  hal membuat dan memutuskan suatu kebijakan. Memilih dengan cara kontemplatif dan intuisi atau kata hati saja tentu tidak cukup, diperlukan juga suatu analisis seperti membuka lembaran-lembaran lama yang pernah dilakukan oleh para kandidat sebagai referensi kriteria pemimpin mana yang memihak rakyat.
 Sikap abstain terhadap pemilu merupakan suatu paradoks― sikap antipati atau golput sama halnya “mencederai demokrasi” akan tetapi jika memilih pun tidak ada calon yang patut untuk dipilih, hal ini menjadi sebuah dilematis bagi pemilih sendiri. Kita berharap siapapun yang nanti akan menjadi pemimpin bangsa ini semoga bisa membuat wajah Indonesia bersinar dan mengurangi segala ketimpangan yang ada. Tinjau kembali apa yang akan dibuat maupun yang telah dihasilkan sebagai indikator terhadap penilaian politik, karena capres yang terpilih akan menentukan nasib bangsa ini 5 tahun ke depan.


Dari berbagai sumber dan gagasan Roliv Sapta 


Visi Saya Si Jinchuuriki:

gifs
Free Blog Templates