Rabu, 26 Maret 2014
Corak Hegemoni dalam pendidikan 2
Diposting oleh Unknown di 20.28
Teori hegemoni ditulis oleh Antonio Gramsci seorang intelektual partai
komunis Italia, yang dalam tulisannya menjelaskan mengapa pemberontakan tidak
dilakukan oleh kaum buruh (proletar) terhadap kaum fasis yang
diktator pada saat itu. Dan pemikiran yang menjelaskan bahwa
pemberontakan tidak akan terjadi selama masih ada hegemoni yang bekerja dibawah
sistem kapitalisme serta tindakan penyadaran tidak harus dilakukan oleh partai
komunis yang berisikan kaum buruh dan intelektual yang berkesadaran akan tetapi
harus juga mengajak kelompok lain yang tertindas.
Hegemoni adalah
sebuah bentuk penguasaan kesadaran yang dilakukan oleh satu kelompok―kapitalis,
kepada kelompok lainnya―kaum tertindas, dengan atau tanpa ancaman
kekerasan, sehingga pemikiran yang dibuat diterima sebagai sesuatu yang wajar
yang bersifat moral, intelektual serta budaya baik secara sadar maupun tidak
sadar. Menurut Gramsci hegemoni tidak dilakukan oleh negara yang dikenal
sebagai Ruling Class namun bisa dilakukan oleh seluruh kelas sosial
lain. Cara kerja hegemoni bisa dikategorikan menjadi dua tahap yaitu tahap
dominasi dan pengarahan. Dominasi yang sering dilakukan dan abadi adalah dengan
alat-alat kekuasaan negara seperti sekolah, media, modal, dan lembaga-lembaga
negara lainnya, dengan menyusupkan ideologi yang bertujuan untuk pembentukan
norma-norma oleh negara yang disepakati oleh masyarakat.
Jika tahap dominasi telah dilalui maka berikutnya yaitu tahap pengarahan dan
masyarakat harus tunduk pada kepemimpinan kelas yang mendominasi. Jika
siapa saja yang mencoba mengkritik dan melawan akan dianggap orang yang tidak
taat terhadap moral dan masyarakat menyebut sebagai sebuah tindakan kebodohan
bahkan adakalanya dilenyapkan melalui tindak kekerasan. Teori hegemoni Gramsci
ini memberikan solusi untuk melawan hegemoni (counter hegemony)
dengan memfokuskan pada sektor pendidikan. Dalam catatan harian Gramsci
yang menuliskan “ setiap orang sebenarnya adalah seorang intelektual namun
tidak semua orang menjalankan fungsi intelektualnya dimasyarakat”. Menurut
Gramsci ada dua tipe intelektual yang ada dalam masyarakat yaitu intelektual
tradisional dan intelektual organik.
Intelektual
tradisional yaitu intelektual yang terlihat independen dan mengamati serta
mempelajari masyarakat dari kejauhan dan seringkali bersifat anti perubahan (konservatif).
Contoh intelektual ini seperti para penulis sejarah, filsuf, dan para profesor.
Sedangkan yang disebut dengan intelektual organik adalah intelektual yang
menanamkan sekaligus menjadi bagian penyebaran ide serta ikut serta dalam
pembentukan masyarakat yang diinginkan. Kaum intelektual organik ketika akan
melakukan counter hegemoni harus memulai dari kenyataan yang ada dimasyarakat
serta harus berpartisipasi aktif dalam menanamkan kesadaran baru yang
menyingkap kebobrokan sistem yang salah sehingga dapat diterima masyarakat
hingga tercapainya revolusi.
Bentuk hegemoni bisa dilakukan melalui musik, film, pendidikan yang berdalil
“globalisasi” dan yang pastinya masih banyak yang belum kita sadari khususnya
anak muda. Contoh sederhana yang ditanamkan dari dulu hingga sekarang
tanpa disadari menurut saya salah satunya pada sektor pendidikan yaitu
dalam warna seragam yang berwarna putih-merah dan putih-biru.
Mengapa seragam sekolah dasar (SD) berwarna putih-merah (bendera
Jepang) bukan merah-putih (bendera Indonesia) ? dan seragam Sekolah
Menengah Pertama (SMP) putih-biru ? ada warna biru yang mewakili bendera
Belanda (merah-putih-biru) . apakah itu merupakan sebuah hegemoni ? atau
merupakan unsur ketidak sengajaan ? tetapi mengapa warna itu yang dipakai ? itu
kembali kepada persepsi dari kawan semua.
Tulisan
tentang teori hegemoni yang alakadarnya ini tentunya tidak bisa
menguraikan seluruh isi pemikiran yang dimaksud oleh Gramsci, akan tetapi hanya
sekilas pemahaman saya dan kita tentu harus terus peka dalam mengkaji serta
menyelami suatu hal yang implisit tentang realitas kehidupan ini, agar kita
memiliki kesadaran baru dalam memandang problema hidup.
Salam Pembebasan!
Minggu, 23 Maret 2014
Slenco Jokowi jadi “plagiat”; sebuah girl band
Diposting oleh Unknown di 22.45
Berbagai
Media dewasa ini banyak mengabarkan
seputar pencapresan Jokowi (JKW) yang
diberi mandat dari ketua umum partainya, banyak pihak yang pro dan kontra
bahkan terkesan menyerang JKW dengan argumen yang tidak rasional mungkin mereka
sudah takut duluan, hal ini merupakan suatu hal yang biasa di Negara demokrasi
yang cacat akan etika politik. Jika apa yang saya tulis ini memang benar maka JKW
memang seorang plagiat atau hanya suatu kebetulan saja, namun mengutip kata cah
lontong dalam Indonesia Lawak club “anda
jangan terjebak kata-kata” , makanya sebelum menyimpulkan baca tulisannya
dengan seksama sampai selesai.
Setiap
partai politik akan melakukan Koalisi
untuk mendapat suara lebih besar di pemilu, dan ketika partai yang
menang itulah partai pemerintah dan yang
tidak berkoalisi disebut dengan partai oposisi. Partai JKW merupakan partai
oposisi dari zaman orde baru sampai dengan sekarang karena tidak berkoalisi
dengan partai presiden. “Jadi apa
hubungannya dengan girl band?” Itu masalahnya! Asumsi dari tulisan saya
tidak ada tendensi untuk menjatuhkan partai atau tokoh dari partai tersebut,
ada belasan partai yang ikut pemilu 2014 mereka yang tidak mau kalah suara akan
melakukan koalisi partai supaya nantinya mendapat kursi jabatan di
pemerintahan.
Menurut
analisis pakar politik untuk memenangkan pemilu harus dapat menyentuh hati
rakyatnya, apa yang dibutuhkan rakyatnya saat ini bukanlah berorasi tentang ideologi
maupun perjuangan, sepertinya masyarakat sekarang tidak mengerti dan tertarik
dengan yang namanya ideologi agama atau nasionalis. Tetapi mereka lebih
membutuhkan kesenangan berlebihan (hedon),
data yang menyebutkan hampir 90% masyarakat Indonesia terutama kalangan muda
menyenangi hal pragmatis yang dapat dirasakan kesenangannya misal nonton bareng
OVJ, YKS yang selalu meningkat jumlah penontonnya, ditambah lagi populernya
K-pop ke seantero dunia terutama di Negara dunia ketiga seperti Indonesia
merupakan virus yang mewabah dan seolah-olah menggantikan budaya. Fans girl dan
boy band sangat antusias bahkan sampai rela mati dan histeris kala bertemu
dengan idolanya tersebut, salah satu girl band yang sedang berada di puncak
popularitasnya adalah JKT 48 dengan personilnya terdiri dari remaja-remaja SMA
yang mampu menarik perhatian ribuan bahkan jutaan anak di Indonesia, andai saja
girl dan boy band ikut pemilu dan berkoalisi pasti pemilihnya banyak haha…..
Peluang
ini tidak disia-siakan oleh JKW yang akan mengadopsi kesuksesan girl band JKT
48, seperti yang kita tahu nomor urut partai JKW yaitu 4 dan partai yang menang
di pemilu 2014 akan menduduki posisi presiden yang ke-7, maka Jokowi akan
menjadi plagiat dengan mengusung nama JKW 47. Nih yel-yel untuk JKW 47dari JKT
48….
Tuhan Juga "Menulis", Kenapa Kita tidak
Diposting oleh Unknown di 08.46
"Buat apa menulis ?" Itu kata pertama yang muncul dibenakku saat pemateri menyampaikan tentang manfaat menulis. Kata demi katapun disampaikan tentang bagaimana cara menulis ditambah hal yang empiris mengenai orang-orang yang sangat berpengaruh karena tulisannya semisal Pramoedya Ananta toer dengan bukunya tetralogi buru yang salah satunya berjudul “Bumi manusia” "siapa tuh….?"bisikku dalam hati, Ahh….aku dengarkan saja —walau begitu bingung dan naifnya aku—mengangguk-ngangguk seperti mengerti saja. Jarum jam pun terus berganti tak terasa matahari mulai sembunyi di balik gunung itu seperti lelah memandang bumi semenjak jam tujuh pagi. Dan materi pun selesai juga, kemudian pemateri menutup dengan kalimat-kalimat motivasi pada kami, “Kita harus…blabla….blibli…, rasa ngantuk ini terus menempel di otakku yang tak bisa mampu lagi tuk berpikir “ ayo cepatlah selesaikan materinya” bisikku pada kenalanku (istilah penulis untuk orang yang belum mengatakan bersedia menjadi teman—pen) yang duduk di sebelahku, dengan diam ia menjawab.
Dan akhirnya pemateri pun
meninggalkan tempat, Setelah itu kami diberi arahan oleh panitia dan kami menyusul
meninggalkan ruangan, kemudian beristirahat untuk mendinginkan kepala serta
berbincang-bincang seputar materi yang telah disampaikan tadi. “kenapa, kelihatannya ngantuk sekali ya? Tanya
kenalanku “iya” jawabku sambil
tersenyum dan perbincanganku pun hanya begitu saja tak banyak kata yang aku
ucap, kemudian kuberserah diri pada lantai yang penuh debu. Sambil melihat
atap-atap langit di ruangan tempat istirahat dan aku berpikir “apa tujuan orang untuk menulis ? apa
menariknya?” Keluh kesahku pada diri sendiri dan terbesit rasa ingin
secepatnya meninggalkan tempat ini saja. Singkat cerita semua agenda acara yang
diikuti telah selesai dan semuanya pulang ke rumah masing-masing dengan wajah
yang sumringah walau ada sebagian lagi dengan wajah penuh lelah seperti
menyesali telah ikut acara ini.
Aku jalani kehidupanku kembali
seperti biasanya namun masih sedikit rasa penasaranku tentang aktivitas menulis
itu. Disela waktu yang kosong akupun mencari di internet siapa sosok penulis
bernama Pram itu yang begitu heroiknya melakukan pencerahan pada semua manusia
melalui tulisan-tulisan dengan menghasilkan karya-karya yang begitu melegenda.
Setelah membaca dari berbagai sumber dan berbincang dengan kenalanku akupun semakin tahu siapa sosok Pram
sebenarnya, beliau adalah seorang
sastrawan sekaligus tokoh revolusioner namun dalam melakukan perubahan tidak
dengan kekerasan melainkan dengan penyadaran berpikir dan tulisan sebagai
senjatanya, itu kiranya yang aku tangkap. Hal ini menjadi suatu pengetahuan
yang baru dalam hidupku bahwa berjuang tidak harus menunmpahkan darah akan
tetapi bisa dilakukan dengan cara-cara intelektual.
![]() |
Setelah perbincangan selesai,
akupun masih tidak tahu apa tujuanku untuk menulis. Kemudian aku dapatkan
jawaban dari kenalan-kenalanku ada yang menjawab seperti ini “ada orang yang jika bicara tidak dimengerti
bahkan sampai ditertawakan itu karena ia dalam berbicara kurang sistematis
namun bisa jadi ia pandai dalam menulis sehingga orang bisa mengerti apa yang
dimaksudnya” ujarnya sambil menghisap sebatang rokok dan memuntahkan asap
di sekitar tempat duduk orang-orang. Ada juga yang menjawab “seorang pendiam merasa tidak nyaman berada
dalam keramaian namun ia juga manusia yang ingin diakui keberadaannya di dunia
sehingga ia membuat tulisan yang seolah-olah berbicara sekaligus sebagai bentuk
eksistensi dirinya”. “…Oohh!” gumamku pelan, ada benarnya juga ketika sebagian orang malu dan takut dalam
menyampaikan apa yang diinginkannya mereka megungkapkan kasih sayang, cacian
dan kritik lewat tulisan, kita juga dapat melihat diberbagai media sosial orang
tidak malu dan tidak takut lagi untuk membagi rasa senang, duka dan berbagai
macam bentuk emosi. Kalau menyimpulkan apa yang dua orang tersebut katakan berarti
“Tuhan itu kaku dalam berbicara kalau
tidak Dia pemalu karena tidak pernah bicara langsung tetapi dituangkan dalam
kitab-kitab suciNya”…. “Astagfirullah!”…. sambil ku menghela napas, “kenapa aku berpikiran seperti itu” dan saat
itu terngiang apa yang telah kudengar dari para ulama dan berbagai buku yang
telah kubaca bahwa “suatu yang bersifat
metafisik adalah hal transenden yang tidak terjamah oleh logika karena merupakan
sesuatu di luar nalar manusia dan mungkin bisa dirasa dengan iman”. Jika
kita bertafakur atau melakukan kontemplasi maka akan terlihat tanda-tanda
kebesaran Tuhan namun sifatnya implisit seperti contoh ‘Tuhan saja menulis
kenapa kita tidak’ dan masih banyak lagi yang belum pernah terungkap. Seperti
kalimat berikut ini yang ditulis oleh Pram “Orang
boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di
dalam masyarakat dan dari sejarah (Rumah Kaca, hal. 352)”, kalimat tersebut
mengandung makna implisit yang sangat dalam dapat pula diartikan seperti ini ‘seandainnya saja Tuhan tidak ditulis maka
umatnya tidak akan tau bahwa Tuhan itu ada’. Bukan hanya manusia saja yang
menulis para malaikat pun menulis amal baik dan perbuatan manusia ketika hidup sebagai
laporan pertanggung jawaban manusia di hadapan Tuhannya nanti dan laporan
malaikat terhadap tugas dari Tuhan.
Memang susah dalam memulai
segala sesuatu, seperti halnya saat kita akan memulai sebuah tulisan takut tidak bagus, tidak
nyambung, dan masih banyak alasan lain. Padahal semua itu hanya suatu alasan
sepele yang menghambat kreatifitas kita saja, niat kita untuk menulis bukan
untuk dipuji atau ingin mendapat suatu penghargaan tapi sebagai eksistensi
bahwa kita mahluk yang pernah ada di dunia ini sebagai pembeda dari
mahluk-mahluk lain. Jadi tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak menulis,
jangan malu atau takut untuk menulis
walau menulis butuh keberanian tapi keberanian itu tidak akan ada tanpa kita
yang memulai.
Selalu ada disktraksi dalam pemilu
Diposting oleh Unknown di 08.36
Pemilihan umum yang akan dilangsungkan pada 9 April 2014 menjadi agenda khusus bagi para pejabat publik untuk dapat memikat hati rakyat agar dapat menduduki kursi orang nomor satu di Indonesia. Bukan hanya pejabat senior saja yang tampil di kancah politik namun para pendatang baru juga turut andil. Tiap partai politik tengah mengusung tema yang berbeda dengan kemasan sederhana namun bersifat kognatif yaitu membangun pencitraan. Hampir semua pencitraan yang ditampilkan sama sehingga membuat bingung dalam memilih kriteria calon legislatif atau calon presiden dari sisi kredibilitas sosial karena semua parpol pro rakyat dan menampilkan sikap sederhana serta keramahan sehingga sulit untuk dibedakan. Kesantunan dijadikan sebagai alat perebutan kekuasaan dalam dinamika politik di Indonesia yang telah menenggelamkan esensi dari politik itu sendiri. Masing-masing dari parpol sudah menentukan bakal calon presiden dengan latar belakang pengusaha sekaligus pemilik media. Dengan taktik menggaet pemilik media memudahkan parpol dalam melakukan hegemoni kepada rakyat melalui media dengan cara pencitraan kesantunan sekaligus sebagai distorsi politik guna menutupi noda hitam di masa lalu, hal ini dapat dilihat dari eskalasi kampanye yang sangat gencar di televisi akhir-akhir ini.
Dalam
percaturan politik di Indonesia kebanyakan masyarakat menilai kriteria pejabat
publik lebih kepada kepribadian yang ditampilkan ketimbang kapabilitas sosial maupun
penilaian terhadap kebijakan― yang akan atau yang pernah dibuat sebelumnya.
Segala hal yang esensial dalam kebijakan ditekan oleh citra kesantunan walaupun
kebijakan itu sangat merugikan. Di mana kebijakan yang telah merugikan rakyat tersebut
merupakan sesuatu yang harus dimaklumi dan diterima begitu saja, secara regresi
tidak sedikit kebijakan yang banyak merugikan rakyat, akan tetapi semua itu
dapat ditutupi kembali dengan kesantunan yang dimunculkan. Sikap defensif pemerintah
dengan perilaku kesantunan dijadikan alat legitimasi yang seakan-akan pihak pemerintah
sebagai korban sehingga rakyat menjadi empati.
Sikap
santun yang dijadikan sebagai distraksi politik atau suatu pengalihan, di mana esensi politik
dialihkan dan diganti oleh sikap pribadi yang baik, sederhana dan santun,
sehingga apapun kebijakan yang dibuat dapat diterima begitu saja sebagai rasa
ketidakpuasaan rakyat terhadap kebijakan yang telah merugikan. Hanya karena
pejabat yang pandai menampilkan sikap ramah, baik, dan santun maka kita menerima begitu saja
kebijakan-kebijakan walaupun merugikan, bahkan kita cenderung memihak pada
kandidat yang menyampaikan dengan santun tanpa meninjau kebijakan yang akan
dibuat maupun yang telah dihasilkan. Munculnya distraksi politik dengan citra
pribadi yang santun di tahun 2004 memang menjadi strategi yang tepat dalam
merebut hati rakyat . Sikap defensif yang ditampilkan menaikan popularitas SBY
dan alhasil terpilihlah sebagai presiden dengan mengalahkan Mega—salah satunya
karena Mega dinilai terlalu keras dalam berorasi yang mencaci tentang program BLT.
Kategori-kategori politik telah didepak oleh citra kesantunan, dimana
kebijakan-kebijakan yang telah merugikan rakyat bisa dibarter—penghapusan
subsidi atau kenaikan BBM―dapat diganti dengan pemberian BLT yang sementara
waktu, kasus korupsi tidak menjadi fokus permasalahan—simpati pada air mata dan
kasih sayang tersangka terhadap keluarga—keluarga terdakwa korupsi menjadi
artis dadakan. Bahkan hal yang esensial seperti Perubahan amandemen UUD tidak
menjadi perhatian kita, namun skandal percintaan pejabat menjadi sorotan utama.
Ketika kita menerima kesantunan sebagai suatu keyakinan dalam penilaian politik
maka kita cenderung akan menerima sesuatu kebijakan yang berdampak pada
kepasrahan dan menerima begitu saja kebijakan-kebijakan yang telah merugikan tanpa
bertanya dan mekritisi.
Menjelang
pemilu 2014 dapat dipastikan para kandidat berkamuflase dengan kedok kesantunan
sebagai alat untuk berebut kekuasaan. Di mana kesantunan dijadikan alat yang
dapat menjatuhkan lawan politik yang tidak santun. Sebagai pemilih yang cerdas tentunya kita menilai
kandidat berdasarkan integritas bukan hanya sikap kesantunan saja, akan tetapi
lebih objektiv dalam memilih yaitu menilai sesuatu dari kinerja kandidat secara sosial dalam hal membuat dan memutuskan suatu kebijakan. Memilih
dengan cara kontemplatif dan intuisi atau kata hati saja tentu tidak cukup,
diperlukan juga suatu analisis seperti membuka lembaran-lembaran lama yang
pernah dilakukan oleh para kandidat sebagai referensi kriteria pemimpin mana
yang memihak rakyat.
Sikap abstain terhadap pemilu merupakan suatu
paradoks― sikap antipati atau golput sama halnya “mencederai demokrasi” akan
tetapi jika memilih pun tidak ada calon yang patut untuk dipilih, hal ini
menjadi sebuah dilematis bagi pemilih sendiri.
Kita berharap siapapun yang nanti akan menjadi pemimpin bangsa ini semoga bisa
membuat wajah Indonesia bersinar dan mengurangi segala ketimpangan yang ada. Tinjau
kembali apa yang akan dibuat maupun yang telah dihasilkan sebagai indikator terhadap
penilaian politik, karena capres yang terpilih akan menentukan nasib bangsa ini
5 tahun ke depan.
Subscribe to:
Komentar (Atom)
Rumah







