dari berbagai sumber
Jumat, 03 Januari 2014
Penganut Budaya Kolotisme
Diposting oleh Unknown di 07.47
Kekerasan merupakan suatu tindakan fisik maupun
verbal secara brutal yang dilakukan manusia terhadap manusia lain dan bermaksud
untuk menakuti serta menguasai manusia tersebut. Setiap manusia pasti pernah
melakukan kekerasan secara spontan hal itu bersifat manusiawi akan tetapi jika
kekerasan dilakukan secara sengaja atau membuat rencana terlebih dahulu maka bisa
dibilang ‘nafsu binatang’ yang membunuh lawannya. Cara seperti itu lazim
dilakukan pada masa kerajaan, siapa yang berani membunuh dialah yang jadi raja
dan berkuasa. Cerita Ken Arok yang melakukan kudeta dengan membunuh Tunggul
Ametung dan sejarah Indonesia ketika menginginkan kemerdekaan tidak luput dari
‘strategi otot’ dan berujung pada pertumpahan darah.
Negeri ini tidak pernah absen dari berbagai
kerusuhan dari mulai penguasa orde lama, orde baru, era reformasi bahkan sampai
sekarang pun selalu ada konflik komunal seakan menjadi sebuah tradisi berdarah.
Kekacauan lain yang terjadi seperti tawuran- tawuran , brutalnya geng-geng
motor, para suporter fanatik dan yang sangat membuat miris sebagian besar
dilakukan oleh kaum terpelajar yang merupakan aset generasi penerus masa depan
bangsa ini. Faktor-faktor penyebab terjadinya berbagai pertumpahan darah
tersebut bisa kita kaji dari yang paling kecil dan mendasar seperti dalam
bidang pendidikan formal, bagaimana itu semua tidak terjadi awal pertama masuk
sekolah atau kuliah saja kita sudah dikenalkan dengan kegiatan ospek yang
merupakan pelestarian budaya perbudakan yang mengakar dan penuh dengan
kekerasan secara fisik maupun dalam bentuk verbal (bentak-bentak), dan
ditanamkanlah rasa benci serta didominasinya junior oleh senior yang
seolah-olah mereka itu dewa. Dikaji dari sejarah bahwa perpoloncoan merupakan
tindakan yang dilakukan oleh kaum penjajah (kolonialisme), yang berbeda
sekarang hanya penghalusan namanya saja menjadi MOS, ospek atau yang lainnya.
Lalu di mana imej bangsa kita yang dipandang
sebagai bangsa yang ramah sedunia dan nilai-nilai kearifan budaya lokal yang
sopan dan santun serta visi pendidikan yang memanusiakan manusia. Seperti yang
ditulis Hermawan Sulistyo “bagaimana kita dapat disebut bangsa yang ramah dan
beradab, kalau menatap saja orang lain di jalan raya pasti dijawab dengan
tantangan berkelahi ?”. Ini memang benar, ketika ospek saja jika junior lirik
sana lirik sini maka senior bilang ‘fokus’, apa lihat-lihat ?, dan junior menjawab
‘iya kang, iya kakak’. Mereka melakukan itu dengan dalil agar junior mempunyai
rasa disiplin serta rasa menghargai kepada yang lebih tua, padahal pada
hakikatnya manusia sudah dibekali mana yang baik dan benar tanpa kekerasan pun
mereka pasti mempunyai kesadaran dan tanggung jawab sendiri. Dinegara lain
kegiatan seperti ospek sudah lama dihapuskan mengapa di Indonesia masih ada ?,
mengutip UUD “penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai
dengan perikemanusiaan dan perikeadilan” itu kita dengar dari SD setiap hari
senin jam 06:30, tapi hanya retorika saja tanpa memahami nilai-nilai yang
terkandung.
Kita ini generasi terdidik-tercerahkan sudah
saatnya menggunakan intelektualitas, serta selaput kasih kita kepada Tuhan dan
mempunyai pandangan visioner untuk masa depan, itulah suatu cara ketika bangsa
ini meraih kemerdekaan bukan dengan cara-cara kolot-kuno. Betapa indahnya bila
kegiatan ospek layaknya seperti kita turun dari bandara Bali disambut dengan
senyum, dihiasi bunga-bunga serta adanya mentor yang siap memperkenalkan kampus
tercinta sehingga terjalin suasana kekeluargaan dan melahirkan perdamaian kelak
dimasa akan datang tidak ada lagi balas dendam, perbudakan turun-temurun dan
dihari tua bercerita pada anak cucu kita betapa tentram karta raharja negeri
Indonesia.
dari berbagai sumber
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)
Rumah

0 komentar:
Posting Komentar