gifs
Visi Saya Si Jinchuuriki

Jumat, 03 Januari 2014

Penganut Budaya Kolotisme


Kekerasan merupakan suatu tindakan fisik maupun verbal secara brutal yang dilakukan manusia terhadap manusia lain dan bermaksud untuk menakuti serta menguasai manusia tersebut. Setiap manusia pasti pernah melakukan kekerasan secara spontan hal itu bersifat manusiawi akan tetapi jika kekerasan dilakukan secara sengaja atau membuat rencana terlebih dahulu maka bisa dibilang ‘nafsu binatang’ yang membunuh lawannya. Cara seperti itu lazim dilakukan pada masa kerajaan, siapa yang berani membunuh dialah yang jadi raja dan berkuasa. Cerita Ken Arok yang melakukan kudeta dengan membunuh Tunggul Ametung dan sejarah Indonesia ketika menginginkan kemerdekaan tidak luput dari ‘strategi otot’ dan berujung pada pertumpahan darah.

Negeri ini tidak pernah absen dari berbagai kerusuhan dari mulai penguasa orde lama, orde baru, era reformasi bahkan sampai sekarang pun selalu ada konflik komunal seakan menjadi sebuah tradisi berdarah. Kekacauan lain yang terjadi seperti tawuran- tawuran , brutalnya geng-geng motor, para suporter fanatik dan yang sangat membuat miris sebagian besar dilakukan oleh kaum terpelajar yang merupakan aset generasi penerus masa depan bangsa ini. Faktor-faktor penyebab terjadinya berbagai pertumpahan darah tersebut bisa kita kaji dari yang paling kecil dan mendasar seperti dalam bidang pendidikan formal, bagaimana itu semua tidak terjadi awal pertama masuk sekolah atau kuliah saja kita sudah dikenalkan dengan kegiatan ospek yang merupakan pelestarian budaya perbudakan yang mengakar dan penuh dengan kekerasan secara fisik maupun dalam bentuk verbal (bentak-bentak), dan ditanamkanlah rasa benci serta didominasinya junior oleh senior yang seolah-olah mereka itu dewa. Dikaji dari sejarah bahwa perpoloncoan merupakan tindakan yang dilakukan oleh kaum penjajah (kolonialisme), yang berbeda sekarang hanya penghalusan namanya saja menjadi MOS, ospek atau yang lainnya.

Lalu di mana imej bangsa kita yang dipandang sebagai bangsa yang ramah sedunia dan nilai-nilai kearifan budaya lokal yang sopan dan santun serta visi pendidikan yang memanusiakan manusia. Seperti yang ditulis Hermawan Sulistyo “bagaimana kita dapat disebut bangsa yang ramah dan beradab, kalau menatap saja orang lain di jalan raya pasti dijawab dengan tantangan berkelahi ?”. Ini memang benar, ketika ospek saja jika junior lirik sana lirik sini maka senior bilang ‘fokus’, apa lihat-lihat ?, dan junior menjawab ‘iya kang, iya kakak’. Mereka melakukan itu dengan dalil agar junior mempunyai rasa disiplin serta rasa menghargai kepada yang lebih tua, padahal pada hakikatnya manusia sudah dibekali mana yang baik dan benar tanpa kekerasan pun mereka pasti mempunyai kesadaran dan tanggung jawab sendiri. Dinegara lain kegiatan seperti ospek sudah lama dihapuskan mengapa di Indonesia masih ada ?, mengutip UUD “penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan” itu kita dengar dari SD setiap hari senin jam 06:30, tapi hanya retorika saja tanpa memahami nilai-nilai yang terkandung.

Kita ini generasi terdidik-tercerahkan sudah saatnya menggunakan intelektualitas, serta selaput kasih kita kepada Tuhan dan mempunyai pandangan visioner untuk masa depan, itulah suatu cara ketika bangsa ini meraih kemerdekaan bukan dengan cara-cara kolot-kuno. Betapa indahnya bila kegiatan ospek layaknya seperti kita turun dari bandara Bali disambut dengan senyum, dihiasi bunga-bunga serta adanya mentor yang siap memperkenalkan kampus tercinta sehingga terjalin suasana kekeluargaan dan melahirkan perdamaian kelak dimasa akan datang tidak ada lagi balas dendam, perbudakan turun-temurun dan dihari tua bercerita pada anak cucu kita betapa tentram karta raharja negeri Indonesia.

dari berbagai sumber



0 komentar:

Posting Komentar

Visi Saya Si Jinchuuriki:

gifs
Free Blog Templates