"Buat apa menulis ?" Itu kata
pertama yang muncul dibenakku saat pemateri menyampaikan tentang manfaat
menulis. Kata demi katapun disampaikan tentang bagaimana cara menulis ditambah
hal yang empiris mengenai orang-orang yang sangat berpengaruh karena tulisannya
semisal Pramoedya Ananta toer dengan bukunya tetralogi buru yang salah satunya
berjudul “Bumi manusia”
"siapa tuh….?"bisikku
dalam hati,
Ahh….aku dengarkan saja
—walau begitu bingung dan naifnya aku—mengangguk-ngangguk seperti mengerti
saja. Jarum jam pun terus berganti tak terasa matahari mulai sembunyi di balik
gunung itu seperti lelah memandang bumi semenjak jam tujuh pagi. Dan
materi pun selesai juga, kemudian pemateri menutup dengan kalimat-kalimat
motivasi pada kami,
“Kita harus…blabla….blibli…, rasa ngantuk ini terus
menempel di otakku yang tak bisa mampu lagi tuk berpikir
“ ayo cepatlah selesaikan materinya” bisikku pada kenalanku
(istilah penulis untuk orang yang belum mengatakan bersedia menjadi teman—
pen) yang duduk di sebelahku, dengan
diam ia menjawab.
Dan akhirnya pemateri pun
meninggalkan tempat, Setelah itu kami diberi arahan oleh panitia dan kami menyusul
meninggalkan ruangan, kemudian beristirahat untuk mendinginkan kepala serta
berbincang-bincang seputar materi yang telah disampaikan tadi. “kenapa, kelihatannya ngantuk sekali ya? Tanya
kenalanku “iya” jawabku sambil
tersenyum dan perbincanganku pun hanya begitu saja tak banyak kata yang aku
ucap, kemudian kuberserah diri pada lantai yang penuh debu. Sambil melihat
atap-atap langit di ruangan tempat istirahat dan aku berpikir “apa tujuan orang untuk menulis ? apa
menariknya?” Keluh kesahku pada diri sendiri dan terbesit rasa ingin
secepatnya meninggalkan tempat ini saja. Singkat cerita semua agenda acara yang
diikuti telah selesai dan semuanya pulang ke rumah masing-masing dengan wajah
yang sumringah walau ada sebagian lagi dengan wajah penuh lelah seperti
menyesali telah ikut acara ini.
Aku jalani kehidupanku kembali
seperti biasanya namun masih sedikit rasa penasaranku tentang aktivitas menulis
itu. Disela waktu yang kosong akupun mencari di internet siapa sosok penulis
bernama Pram itu yang begitu heroiknya melakukan pencerahan pada semua manusia
melalui tulisan-tulisan dengan menghasilkan karya-karya yang begitu melegenda.
Setelah membaca dari berbagai sumber dan berbincang dengan kenalanku
akupun semakin tahu siapa sosok Pram
sebenarnya,
beliau adalah seorang
sastrawan sekaligus tokoh revolusioner namun dalam melakukan perubahan tidak
dengan kekerasan melainkan dengan penyadaran berpikir dan tulisan sebagai
senjatanya, itu kiranya yang aku tangkap. Hal ini menjadi suatu pengetahuan
yang baru dalam hidupku bahwa berjuang tidak harus menunmpahkan darah akan
tetapi bisa dilakukan dengan cara-cara intelektual.
Setelah perbincangan selesai,
akupun masih tidak tahu apa tujuanku untuk menulis. Kemudian aku dapatkan
jawaban dari kenalan-kenalanku ada yang menjawab seperti ini “ada orang yang jika bicara tidak dimengerti
bahkan sampai ditertawakan itu karena ia dalam berbicara kurang sistematis
namun bisa jadi ia pandai dalam menulis sehingga orang bisa mengerti apa yang
dimaksudnya” ujarnya sambil menghisap sebatang rokok dan memuntahkan asap
di sekitar tempat duduk orang-orang. Ada juga yang menjawab “seorang pendiam merasa tidak nyaman berada
dalam keramaian namun ia juga manusia yang ingin diakui keberadaannya di dunia
sehingga ia membuat tulisan yang seolah-olah berbicara sekaligus sebagai bentuk
eksistensi dirinya”. “…Oohh!” gumamku pelan, ada benarnya juga ketika sebagian orang malu dan takut dalam
menyampaikan apa yang diinginkannya mereka megungkapkan kasih sayang, cacian
dan kritik lewat tulisan, kita juga dapat melihat diberbagai media sosial orang
tidak malu dan tidak takut lagi untuk membagi rasa senang, duka dan berbagai
macam bentuk emosi. Kalau menyimpulkan apa yang dua orang tersebut katakan berarti
“Tuhan itu kaku dalam berbicara kalau
tidak Dia pemalu karena tidak pernah bicara langsung tetapi dituangkan dalam
kitab-kitab suciNya”…. “Astagfirullah!”…. sambil ku menghela napas, “kenapa aku berpikiran seperti itu” dan saat
itu terngiang apa yang telah kudengar dari para ulama dan berbagai buku yang
telah kubaca bahwa “suatu yang bersifat
metafisik adalah hal transenden yang tidak terjamah oleh logika karena merupakan
sesuatu di luar nalar manusia dan mungkin bisa dirasa dengan iman”. Jika
kita bertafakur atau melakukan kontemplasi maka akan terlihat tanda-tanda
kebesaran Tuhan namun sifatnya implisit seperti contoh ‘Tuhan saja menulis
kenapa kita tidak’ dan masih banyak lagi yang belum pernah terungkap. Seperti
kalimat berikut ini yang ditulis oleh Pram “Orang
boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di
dalam masyarakat dan dari sejarah (Rumah Kaca, hal. 352)”, kalimat tersebut
mengandung makna implisit yang sangat dalam dapat pula diartikan seperti ini ‘seandainnya saja Tuhan tidak ditulis maka
umatnya tidak akan tau bahwa Tuhan itu ada’. Bukan hanya manusia saja yang
menulis para malaikat pun menulis amal baik dan perbuatan manusia ketika hidup sebagai
laporan pertanggung jawaban manusia di hadapan Tuhannya nanti dan laporan
malaikat terhadap tugas dari Tuhan.
Memang susah dalam memulai
segala sesuatu, seperti halnya saat kita akan memulai sebuah tulisan takut tidak bagus, tidak
nyambung, dan masih banyak alasan lain. Padahal semua itu hanya suatu alasan
sepele yang menghambat kreatifitas kita saja, niat kita untuk menulis bukan
untuk dipuji atau ingin mendapat suatu penghargaan tapi sebagai eksistensi
bahwa kita mahluk yang pernah ada di dunia ini sebagai pembeda dari
mahluk-mahluk lain. Jadi tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak menulis,
jangan malu atau takut untuk menulis
walau menulis butuh keberanian tapi keberanian itu tidak akan ada tanpa kita
yang memulai.
0 komentar:
Posting Komentar